Translate

Senin, 30 Maret 2009

Setelan Jas Itu Bersayap Kupu-kupu


Pintu kamar terdengar dibuka. Seseorang masuk dan melangkah menuju ranjangku–kudengar dari suara sepatunya di lantai. Aku tahu ini pasti mama. Dari balik selimut aku kembali memejamkan mata. Hanya berpura-pura.
“My Little Angel, ayo bangun. Bukankah kamu harus mengumpulkan tugas matematika pagi ini?”
Inilah bagian yang aku suka dari rutinitas pagiku. Aku masih berpura-pura tidur. Mama menarik selimut yang menutupi hingga ke ujung-ujung rambut blondeku, lalu jari tangannya yang halus mengusap-usap wajahku dengan lembut. Jarinya berhenti di ujung hidungku dan dengan telunjuknya mama menutup kedua lubangnya. Akupun berteriak karena tak bisa menahan nafas dan tertawa setelah itu. Mama memang selalu bisa menebak kepura-puraanku.
“Kena kamu! Haha… ayo Litle Angel, sekarang kita mandi. Bukankah Nona Brenda selalu menghukum dengan penggarisnya yang panjang kalau ada yang terlambat? Jangan sampai hari ini giliranmu.”
Nona Brenda. Aku sebenarnya tak terlalu suka dengannya. Dia adalah wali kelasku di kelas dua. Bukan karena ia selalu menghukum setiap anak yang terlambat dengan pukulan penggaris panjang di telapak tangan–karena bisa dipastikan aku tak pernah terlambat—ataupun karena ia selalu memberikan tugas-tugas untuk dikerjakan di rumah. Aku tak suka pada Nona Brenda karena setelan blousenya yang kuno dan selalu berwarna hitam yang semakin menampakkan postur tubuh kurusnya, ditambah lagi dengan kacamatanya yang tebal. Sepele, tapi Nona Brenda mengingatkanku pada tokoh-tokoh antagonis dalam serial telenovela yang tak pernah dilewatkan oleh Nanny, pengasuhku.
“Litle Angel, kamu sudah siap?” suara mama memanggil dari bawah.
Aku segera turun dari kamarku di lantai atas diikuti Nanny yang menenteng sepatu dan tas sekolahku. Rupanya mama sudah menunggu di meja makan dengan segelas susu dan selembar roti panggang berlapis selei strawberi kesukaanku. Sambil mengunyah roti aku menyampaikan hal kecil yang sudah kurencanakan sejak di sekolah kemarin bersama Rachel. Bahwa aku akan menjemputnya untuk berangkat bersama.
“Ma, boleh kan’ aku menjemput Rachel nanti? Kami janji berangkat bersama.”
“Tentu, Litle Angel. Kita akan menjemput Rachel di rumahnya. Tapi, kamu sudah bilang padanya untuk menunggu?”
Jalan ramai sekali oleh lalu-lalang kendaraan. Orang-orang sangat sibuk rupanya kalau pagi seperti ini, aku berpikir kalau kebanyakan dari mereka itu pekerja kantoran. Bisa ditebak dari pakaian yang mereka pakai di belakang setir mobil, setelan kemeja putih, jas hitam dan celana hitam. Memang cuma tebakan saja, tapi bukankah sebagian besar orang-orang kantoran bekerja dengan setelan jas lengkap? Kecuali ayahnya George yang juga bekerja di kantoran tapi tak pernah aku lihat berangkat dengan setelan jas. Bahkan kemeja. Setiap pagi ketika mau berangkat ke sekolah aku lihat Tuan Newton pergi ke kantor dengan mengayuh sepeda berpenampilan seadanya. Padahal Tuan Newton dan mama kerja di kantor yang sama.
Suatu malam ketika mengantarku ke tempat tidur aku pernah menanyakannya pada mama.
“Apakah dia, direktur?”
“Siapa yang kau bicarakan Litle Angel?”
“Tuan Newton, aku lihat dia ke kantor tak pernah memakai setelan jas seperti teman pria mama yang lainnya?” sahutku pada mama. “Lalu kenapa hanya punya sepeda kalau dia direktur?”
“Oo, Tuan Newton. Tidak sayang, Tuan Newton bukan direktur dan tidak perlu mengenakan jas karena di kantor dia sudah punya pakaian yang bagus. Kalau kamu lihat kamu pasti suka, berwarna biru tanpa dasi. Walau pun demikian, Tuan Newton sangat senang dengan pakaiannya dan tentu saja pekerjaannya. Kalau Tuan Newton hanya punya sepeda, itu karena Tuan Newton ingin menabung untuk masa depan George.”
“Mama punya mobil, apakah mama tidak menabung untuk masa depan saya?”
“Litte Angel, mama selalu memikirkan masa depan kamu sayang. Walau pun punya mobil, mama masih bisa menabung. Lagipula mama kan’ tak cukup kuat untuk mengayuh sepeda karena kamu yang semakin besar. Haha…” Mama menggelitikku dengan tiba-tiba, tawanya menggema dari langit kamarku. Aku tak mau kalah, bangun untuk balas menggelitiknya. Kami tertawa dalam dunia malam kami yang kecil di mana hanya ada kami berdua.
“Jadi sekarang tidurlah. Mimpi yang indah, ya?” Jawab mama sambil mengecupkan bibirnya di keningku. Sebentar merapikan selimut sebelum akhirnya ia keluar dan kamar menjadi gelap.

0 komentar:

Posting Komentar