Translate

Senin, 30 Maret 2009

Etimologi

Pengertian
Asal-usul bentuk kata dipelajari oleh etimologi. Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa kata memiliki sejarah, mempunyai asal-usul. Dia lahir, tumbuh, dan berkembang. Ada yang hidup terus dipakai orang, dan sebaliknya ada yang begitu lahir, langsung menghilang.
Kata-kata, seperti manusia, mempunyai sejarah dan mengalami perubahan, baik bentuk maupun isinya, baik bunyi maupun artinya. Kita ambil sebagai contoh, misalnya, kata iklan. Kata ini berasal dari bahasa Arab i'lam, bentuk verba imperatif yang berani 'ketahuilah!' .Sekarang sinonim dengan advertensi.
Dalam komunikasi sehari-hari kita sering rnemakai kata harta dan arti. Siapa mengira kedua kata ini ternyata memiliki sejarah kelahiran yang sama, berasal dari akar yang sama. Dan keduanya mempunyai hubungan erat dengan kata permata. Baik arti maupun harta berasal dari kata Sansekerta artha 'arti atau guna'. Harta adalah 'sesuatu yang sangat berarti atau berguna' Kata parama juga mempunyai arti yang sama, yakni parama 'utama' dan artha. Jadi secara etimologis kata itu bermakna 'arti atau guna yang utama' Dan sekarang? Apa maknanya?
Dalam bagian ini kita tidak akan menelusuri asal-usul setiap kata, tetapi kita hanya mencoba untuk memahami konsep-konsep yang menandai perubahan bentuk kata atau proses pembentukan kata, yang lazim kita sebut gejala bahause.
Gejala Bahasa atau Peristiwa Bahasa
Gejala bahasa atau peristiwa bahasa itu di antaranya ialah:

(1) Adaptasi,
penyesuaian bentuk berdasarkan kaidah fonologis, kaidah ortografis, atau kaidah morfologis

Contoh :
• vyaya menjadi biaya
• pajeg menjadi pajak
• voorloper menjadi pelopor
• fardhu menjadi perlu
• igreja menjadi gereja
• voorschot menjadi persekot
• coup d'etat menjadi kudeta
• postcard menjadi kartu pos
• certificate of deposit menjadi sertifikat deposito
• mass producIion menjadi produkmassa
(2) Analogi,
pembentukan kata berdasarkan contoh yang telah ada.

Contoh :
• Berdasarkan kata 'dewa-dewi' dibentuk kata :
putra-putri, siswa-siswi, saudara-saudari, pramugara-pramugari
• Berdasarkan kata 'industrialisasi' dibentuk kata :
hutanisasi, Indonesianisasi
• Berdasarkan kata 'pramugari' dibentuk kata :
pramuniaga, pramuwisata, pramuria, pramusaji,pramusiwi
• Berdasarkan kata 'swadesi' dibentuk kata :
swadaya, swasembada, swakarya, swasta, swalayan
• Berdasarkan kata 'tuna netra' dibentuk kata :
tuna wicara, tuna rungu, tuna aksara, tuna wisma, tuna karya, tuna susila, tuna busana.
(3) Anaptiksis (Suara Bakti),
penyisipan vokal e pepet untuk melancarkan ucapan Disebut juga suara bakti.

Contoh:
• sloka menjadi seloka
• srigala menjadi serigala
• negri menjadi negeri
• ksatria menjadi kesatria
(4) Asimilasi,
proses perubahan bentuk kata karena dua fonem berbeda disamakan atau dijadikan hampir sama.

Contoh:
• in-moral menjadi immoral
• in-perfect menjadi imperfek
• al-salam menjadi asalam
• ad-similatio menjadi asimilasi
• in-relevan menjadi irelevan
• ad-similatio menjadi asimilasi
(5) Disimilasi,
kebalikan dari asimilasi, yaitu perubahan bentuk katam yang terjadi karena dua fonem yang sama dijadikan berbeda.
Contoh :
saj jana menjadi sarjana
sayur-sayur menjadi sayur-mayur

(6) Diftongisasi,
perubahan bentuk kata yang terjadi karena monoftong diubah menjadi diftong.Jadi kebalikan monoftongisasi.
Contoh :
• sentosa menjadi sentausa
• cuke menjadi cukai
• pande menjadi pandai
• gawe menjadi gawai
(7) Monoftongisasi,
perubahan benluk kata yang terjadi karena perubahan diftong (vokal rangkap) menjadi monoftong (vokal tunggal)
Contoh :
• autonomi menjadi otonomi
• autobtografi menjadi otobiografi
• satai menjadi sate
• gulai rnenjadi gule
(8) Sandi (Persandian),
perubahan bentuk kata yang terjadi karena peleburan dua buah vokal yang berdampingan, dengan akibat jutmlah suku kata berkurang satu.
Contoh :
• keratuan menjadi keraton
• kedatuan menjadi kedaton
• sajian menjadi sajen
• durian menjadi duren
Perhatikan jumlah suku kata!

ke - ra - tu - an ~> ke - ra - ton
1 2 3 4 1 2 3

du - ri- an ~> du - ren
1 2 3 1 2


(9) Hiperkorek,
pembetulan bentuk kata yang sebenarnya sudah betul, sehingga hasilnya justru salah.
Contoh :
• Sabtu menjadi Saptu
• jadwal menjadi jadual
• manajemen menjadi menejemen
• asas menjadi azas
• surga menjadi sorga
• Teladan menjadi tauladan
• izin menjadi ijin
• Jumat menjadi Jum'at
• kualifikasi menjadi kwalifikasi
• frekuensi menjadi frekwensi
• kuantitas menjadi kwantitas
• November menjadi Nopember
• kuitansi menjadi kwitansi
• mengubah menjadi merubah
• februari menjadi Pebruari
• persen menjadi prosen
• pelaris menjadi penglaris
• system menjadi sistim
• teknik menjadi tehnik
• apotek menjadi apotik
• telepon menjadi telfon
• ijazah menjadi ijasah
• atlet menjadi atlit
• nasihat menjadi nasehat
• biaya menjadi beaya
• perusak menjadi pengrusak
• zaman menjadi jaman
• koordinasi menjadi kordinasi
(10) Kontaminasi,
disebut juga kerancuan, yaitu kekacauan dimana dua pengertian yang berbeda, atau perpaduan dua buah struktur yang seharusnya tidak dipadukan.
Contoh :
• berulang-ulang dan berkali-kali menjadi berulang-kali
• saudara-saudara dan saudara sekalian menjadi saudara-saudara sekalian
• musnah dan punah menjadi musnah
(11) Metatesis,
pergeseran kedudukan fonem, atau perubahan bentuk kata karena dua fonem alau lebih dalam suatu kata bergeser tempatnya.
Contoh :
• rontal menjadi lontar
• anteng menjadi tenang
• usap menjadi sapu
• palsu menjadi sulap
• keluk menjadi lekuk
(12) Protesis,
perubahan fonem di depan bentuk kata asal.
Contoh :
• lang menjadi elang
• mak menjadi emak
• mas menjadi emas
• undur menjadi mundur
• stri menjadi istri
• arta menjadi harta
• alangan menjadi halangan
• sa menjadi esa
• atus menjadi ratus
• eram menjadi peram
(13) Epentesis,
perubahan bentuk kata yang terjadi karma penyisipan fonem ke dalam kata asal
Contoh :
• baya menjadi bahaya
• bhayamkara menjadi bhayangkara
• gopala menjadi gembala
• jur menjadi jemur
• bahasa menjadi bahasa.
(14) Paragog,
perubahan bentuk kata karena penambahan fonem di bagian akhir kata asal.
Contoh :
• mama, bapa menjadi mamak dan bapak
• pen menjadi pena
• datu menjadi datuk
• hulu bala menjadi hulubalang
• boek menjadi buku
• abad menjadi abadi
• pati menjadi patih
• bank menjadi bangku
• gaja menjadi gajah
• conto menjadi contoh.
(15) Aferesis,
penghilangan fonem di awal bentuk asal.
Contoh :
• adhyaksa menjadi jaksa
• empunya menjadi punya
• sampuh menjadi ampuh
• wujud menjadi ujud
• bapak menjadi pak
• ibu menjadi bu.
(16) Sinkop,
penghilangan fonem di tengah atau di dalam kata asal.
Contoh :
• laghu menjadi lagu
• vidyadhari menjadi bidadari
• pelihara menjadi piara
• mangkin menjadi makin
• niyata menjadi nyata
• utpatti menjadi upeti.
(17) Apokop,
penghilangan fonem di akhir bentuk kata asal.
Contoh :
• sikut menjadi siku
• riang menjadi ria
• balik menjadi bali
• anugraha menjadi anugerah
• pelangit menjadi pelangi.
(18) Kontraksi,
gejala pemendekan atau penyingkatan suatu frase menjadi kata baru.
Contoh :
• tidak ada menjadi tiada
• kamu sekalian menjadi kalian
• kelam harian menjadi kemarin
• bagai itu menjadi begitu
• bagai ini menjadi begini.

Akronim, seperti balita, siskamling, rudal, ampera, pada dasarnya termasuk gejala kontraksi.
(19) Nasalisasi,
atau penyengauan, proses penambahan bunyi sengau atau fonem nasal, yaim /m/, /n/, /ng/, den /ny/.
Contoh :
• me baca menjadi membaca
• pe duduk menjadi penduduk
• pe garis menjadi penggaris.
(20) Palatalisasi,
penambahan fonem palatal /y/ pada suatu kata ketika kata ini dilafalkan.
Contoh :
pada kata ia, dia. pria, panitia, ksatria, bersedia, yang masing-masing dilafalkan /iya/, /priya/, /diya/. /panitiya/, dan /bersediya/. jadi palatalisasi muncul di antara vokal /i/ dan /a/ yang digunakan berdampingan.
(21) Labialisasi,
penambahan fonem labial /w/ di antara vokal /u/ dan /a/ yang berdampingan pads sebuah kata.
Contoh :
pada kata uang, buang, ruang, juang, kualitas, dan lain-lain. Selain itu, labialisasi juga muncul di antara vokal /u/ dan/e/. atau /u/ dan /i/ seperti pada kata frekuensi dan kuitansi. Pada waktu kita lafalkan
kata-kata itu, terasa sekali, bahwa di antara vokal-vokat tersebut
timbul fonem labial /w/, misalnya uang kita lafalkan /uwang/,
(22) Onomatope,
proses pembentukan kata berdasarkan tiruan bunyi-bunyi.
Contoh :
• hura-hura dari hore-hore.
• aum (suara harimau)
• meong (suara kucing)
• embik (suara kambing)
• desis (suara ular)
• desah (suara napas)
• ketuk (bunyi pintu atau meja dipukul dengan jari atau palu)
(23) Haplologi,
proses perubahan bentuk kata yang berupa penghilangan satu suku kata di tengah-tengah kata.
Contoh :
• samanantara menjadi sementara
• mahardhika menjadi merdeka
• budhidaya menjadi budaya

1 komentar:

  1. Topik ini amat bermanfaat kepada saya. Terima kasih.

    BalasHapus